Memaknai Ulang Tahun Perak SMAK 5

Tidak terasa, SMA Kristen 5 PENABUR Jakarta telah menginjak usia 25 tahun. Mensyukuri pencapaian usia perak, sekolah mengadakan kebaktian yang terselenggara di Aula TKK 6 PENABUR pada Sabtu, 15 Desember 2018. Selain guru dan karyawan sekolah, turut hadir pula alumni siswa, guru, karyawan dan kepala sekolah.

Kebaktian syukur ulang tahun perak SMAK 5 itu dipimpin oleh alumni siswa, Pendeta Yolanda Pantau. Dalam khotbahnya ia menjelaskan bahwa saat ini sentimen agama dapat menjadi penyulut berbagai konflik di Indonesia. Sekolah dengan label agama pun semestinya memahami agama sebagai nilai-nilai dasar kebaikan, bukan identitas yang mendeskriminasi atau bersifat inklusif. “Karena agama sebagai identitas hanya akan menjadi batas yang membedakan dengan yang lain,” terang Pdt. Yolanda.

Alumni siswa angkatan pertama itu menerangkan bahwa agama di dunia pendidikan bukanlah buku pintar. Agama justru menjadi peta yang membantu siswa agar hidup saleh dan mengarahkan untuk dapat hidup yang benar. Dengan demikian, semakin tinggi pendidikan seseorang seharusnya moralnya semakin baik dan bijak. Selain itu, ia juga tidak menggunakan kepintarannya untuk membodohi orang lain. “Pendidikan dan moralitas itu berbanding lurus sehingga dapat berjalan beriringan,” tuturnya.

Selanjutnya, pendeta dari GKI Surya Utama itu mengungkapkan bahwa agama memang mengajarkan iman dan kebajikan yang menjadikan seseorang memiliki kebaikan. Namun, jika iman dan kebajikan tersebut ditambah pengetahuan maka akan muncul kebijaksanaan. Dan pengetahuan itu diperoleh dari pendidikan.

SMAK 5 sebagai sekolah berbasis agama harus semakin mewujudnyatakan cinta kasih pada sesama dengan terus mengajarkan iman, kebajikan, dan pengetahuan. Pendidikan yang diberikan tidak boleh inklusif, picik, serta menipu diri sendiri dan siswa. “Sebagai pendidik pun kita harus menyatakan cinta pada sesama dan bakti pada Tuhan,” pesan Pdt. Yolanda. (Lucia Febriarlita)