TIDAK OBJEKTIF

Jadi jika Aku mengusir setan dengan kuasa Beelzebul, dengan kuasa apakah pengikut-pengikutmu mengusirnya? Sebab itu merekalah yang akan menjadi hakimmu. (Luk 11:19) 

Melihat Yesus mengusir setan, beberapa orang menilai-Nya memakai kuasa Beelzebul, maka Yesus bertanya dengan kuasa siapa pengikutpengikut mereka sendiri mengusir setan. Jawaban mereka yang akan menjadi hakim mereka. Jika mereka jawab, `Dengan kuasa Allah,` Betapa tidak objektifnya penilaian mereka! Penilaian dan kriteria penilaian yang mereka terapkan kepada Yesus tidak mereka terapkan kepada pengikut mereka sendiri.

Mungkin, kita juga sering jatuh dalam penilaianpenilaian tidak objektif seperti itu. Penyebabnya? Macam-macam hal, a.l.: iri hati, sakit hati, kelekatan pada pujian/kehormatan, atau pada teorinya sendiri. Contohnya, orang yang iri hati cenderung memandang negatif orang yang dianggap `saingannya`. Hatinya `panas` jika melihat kebaikan/keberhasilan si saingan, maka ia cenderung mencari-cari kesalahan si saingan. Jika tidak menemukannya, ia tidak segan-segan mengada-ada, alias memfitnah si saingan. Betapa berbahayanya penilaianpenilaian dan penghakiman-penghakiman seperti itu karena akibatnya bisa fatal: `yang tuhan dianggap setan, yang setan dianggap tuhan!`

Sudah objektifkah penilaian kita? Apakah kriteriakriteria kita menilai orang lain sama dengan yang kita kenakan untuk menilai diri kita atau kelompok kita?

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”