MEMANCARKAN KASIH

Ia pergi kepadanya lalu membalut luka-lukanya, sesudah ia menyiraminya dengan minyak dan anggur. Kemudian ia menaikkan orang itu ke atas keledai tunggangannya sendiri lalu membawanya ke tempat penginapan dan merawatnya. (Luk 10:34) 

Suatu hari saya merasa tersentuh ketika melihat seorang nenek yang dalam kekurangannya dengan rela hati membantu orang lain yang membutuhkan pertolongan. Mungkin untuk membeli makan saja, ia tidak mampu. Namun, kasihnya yang besar membawa kebahagiaan bagi orang lain. Apakah kita dapat menjadi seperti nenek ini?

Terkadang kita membutakan mata dan hati kita sendiri dengan tidak peduli terhadap sesama. Akhirnya, rahmat-rahmat yang seharusnya kita terima hilang begitu saja. Kita perlu belajar dari St. Teresa dari Kalkuta yang telah menjadi sebuah tanda kasih Allah di tengah dunia dewasa ini. Kasihnya yang besar memampukan ia menjadi utusan Allah untuk meringankan beratnya penderitaan umat manusia. Dia menjalankan semuanya dengan menjadi cahaya-Nya dan memancarkan kasihNya kepada kaum miskin.

Sebuah tindakan kasih, betapapun kecilnya adalah kasih yang konkrit. Kita juga bisa menjadi orang Samaria yang baik hati di saat kita sungguh-sungguh hadir bagi orang yang membutuhkan pertolongan kita.

Sabda Tuhan mengajak kita untuk mengasihi sesama, semua orang, tidak hanya orang miskin. Dengan mengasihi berarti kita pun berani memancarkan kasih Allah yang menyelamatkan.

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”