SEBERAPA BESARKAH AKU PERCAYA?

Sebab itu aku juga menganggap diriku tidak layak untuk datang kepada-Mu. Tetapi katakan saja sepatah kata, maka hambaku itu akan sembuh. (Luk 7:7)

Hidup kita sehari-hari dekat dengan sikap percaya. Anak kecil akan tertawa kegirangan ketika ia dilempar ke atas oleh ayahnya. Anakanak biasanya gembira ketika orang tuanya mendorong ayunan mereka. Anak-anak penuh kepercayaan kepada Allah, orang tua, dan orang-orang di sekitar mereka. Akan tetapi, sikap ini perlahan-lahan memudar ketika kita beranjak dewasa. Kerapkali orang dewasa meminta dan membutuhkan bukti untuk bisa percaya.

Sikap perwira Romawi dalam Injil sungguh berbeda. Ia percaya penuh kepada Yesus. Ia percaya bahwa katakata Yesus saja dapat menyembuhkan hambanya yang sedang sakit. Ia tidak meminta agar Yesus datang, menumpangkan tangan, atau menjamah hambanya sebagai bukti kuasa penyembuhan Yesus.

Perbuatan perwira ini juga mengajak kita untuk tidak egois atau hanya mementingkan diri sendiri, namun juga untuk menaruh kasih terhadap orang-orang di sekitar kita, walaupun hanya bawahan atau karyawan kita.

Sebagai orang beriman, seberapa besar kepercayaan dan kasih kita kepada Allah? Percayalah sepenuhnya kepada Yesus, karena Ia adalah Sang Juru Selamat, Allah yang senantiasa menyertai dan mengasihi kita.