MENGAMAT-AMATI

Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi mengamat-amati Yesus, […] supaya mereka dapat alasan untuk mempersalahkan Dia. (Luk 6:7)

Orang Farisi dan ahli Taurat adalah orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai pakar hukum agama, tetapi tindakan mereka tidak mencerminkan nilai-nilai rohani seperti ilmu yang mereka pelajari. Mereka sering mencari kesalahan orang lain, mengadili sesama, iri hati, dan memberi cap serta menjatuhkan orang lain.

Dalam sebuah seminar pernah ditanyakan, `Apakah Kentucky itu dan apakah Sosro itu?` Hanya satu jawaban para peserta, yaitu `Kentucky adalah ayam goreng dan Sosro adalah minuman teh botol.` Lalu, si pembicara melanjutkan bahwa Kentucky adalah juga bagian negara kecil di Amerika, sedangkan Sosro bisa merupakan nama orang kita, misalnya Sosro Wijaya, Sosro Hadi, dsb.

Tanpa disadari kita sering memberi cap/stempel kepada seseorang. Walaupun orang tersebut sudah berubah dan melakukan yang baik, cap itu tetap kita kenakan padanya. Seperti Kentucky dan Sosro, karena kita mengenalnya sebagai ayam goreng dan teh botol, maka kita tertutup untuk fakta dan pandangan yang lain.

Yesus tidak pernah menjatuhkan atau memberi cap kepada siapa pun. Ia tidak men-cap dan `menyalibkan` Maria Magdalena, Agustinus, dll. pada masa lalu mereka. Dengan kasih sejati, Ia membantu dan memberi kesempatan mereka untuk menjadi baru. Kasih mengatasi hukum. Kasih mengatasi segalanya.

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”