KUASA PENGAMPUNAN

`Sebab itu Aku berkata kepadamu: Dosanya yang banyak itu telah diampuni, sebab ia telah banyak berbuat kasih. [`]. (Luk 7:47)

St. Paulus berkata, `Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, bahkan tidak layak disebut rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah.` (1Kor 15:9). Siapa di antara kita yang tidak pernah melakukan kesalahan atau dosa terhadap orang lain sehingga ia harus meminta maaf? Sadar tidak sadar, seseorang `menderita dan terbeban` sebelum ia dimaafkan atas kesalahan atau dosanya.

Demikianlah perempuan dalam Injil hari ini. Sadar akan dosanya dan penuh dengan harapan, ia datang kepada Yesus. Dia tidak berkata sepatah kata pun, tidak pula membela diri, dia hanya menangis (bdk. Luk 7:38). Yesus tidak menghakimi, menolak, ataupun marah kepadanya, meskipun Ia sangat membenci dosa.

Apa yang kita lakukan ketika berhadapan dengan orang berdosa seperti itu? Seringkali sikap kita seperti orang Farisi yang cenderung menghakimi dan membanding-bandingkan, sulit untuk memaafkan dan menerima dia apa adanya sebagai manusia yang unik. Akibatnya, bukannya menolong, kita membuat dia semakin terpuruk.

Yesus, ajarilah dan berilah kami rahmat untuk mengam puni dan menerima kembali orang yang bersalah kepada kami.

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”