BERBUAT BAIK

Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya. (Ams 3:27)

Berbuatlah yang baik dan hindarilah yang jahat! Itu suatu `hukum` moral dasar yang ditanamkan dalam hati nurani setiap manusia. Meskipun demikian, tanpa kita sadari, seringkali kita memberikan kriteria-kriteria untuk berbuat baik. Sebaliknya, kita akan bersikap natural ketika kita berbuat sesuatu yang jahat. Dengan kata lain, kita lebih memudahkan diri kita untuk berbuat jahat daripada berbuat baik. Hal sederhana yang mungkin sering kita lakukan adalah `saya berbuat baik kepada mereka yang saya sukai atau yang memang layak menerima kebaikan saya`. Namun, ketika kita berbuat yang jahat, apakah kita pernah berpikir mengenai `layak dan tidak layaknya` orang tersebut menerima perbuatan kita? Seringkali ukuran dalam setiap perbuatan kita adalah diri kita. Tidak demikianlah yang diajarkan Yesus.

Yesus memberikan diri-Nya ketika manusia masih dalam keadaan berdosa (bdk. Rm 5:8). Ia juga mengatakan bahwa Bapa di surga menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan yang baik (bdk. Mat 5:45). St. Teresa dari Kalkuta mengajak kita untuk tetap berbuat baik sekalipun perbuatan baik kita pada hari ini seringkali dilupakan pada keesokan harinya, sekalipun orang lain menilai perbuatan baik yang kita lakukan memiliki motivasi egois yang tersembunyi. Tidak ada hukum yang melawan perbuatan baik.

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”