Pukul Berapa Sekarang dalam Jam Kehidupanmu?

Banyak orang memiliki pandangan bahwa time is money, sebuah pandangan meyakini bahwa waktu identik dengan uang. Jika kita salah satu yang memiliki pandangan tersebut, maka sepertinya kita perlu memikirkan dan meninjau kembali pemikiran itu.

Sesungguhnya, waktu jauh lebih berharga daripada uang. Kalau kita kehilangan uang, maka masih bisa mencarinya lagi. Namun, jika waktu yang hilang, bagaimana kita akan mendapatkannya kembali? Bahkan dengan uang dan kekayaan yang telah diperoleh, tidak seorang pun bisa membeli waktu yang sudah terpakai. Berangkat dari hal tersebut maka dapat disimpulkan bahwa waktu adalah hidup, dan hidup sendiri adalah menjalani waktu.

Waktu adalah salah satu karunia Tuhan yang sangat berharga. Namun waktu yang sangat berharga itu sering sekali kita sia-siakan dengan melakukan hal-hal yang tidak penting. Akibatnya waktu yang seharusnya cukup menjadi tidak cukup.

Waktu yang terbuang itu tidak seperti sebongkah es batu yang selalu dapat kita ambil dari lemari es bila hendak menggunakannya. Waktu akan berjalan terus-menerus berjalan tanpa kompromi. Oleh karena itu, ketika kita telah membunuh waktu, maka waktu tersebut tidak akan pernah dapat dibangkitkan kembali.

Hal yang sering membuat kita menyia-nyiakan waktu adalah pemahaman bahwa akan selalu tersedia banyak waktu. Pemahaman ini sering membuat kita hanyut dan larut pada hal-hal yang tidak penting. Pemikiran ini juga sering membuat kita menunda-nunda hal penting yang seharusnya dikerjakan.

Meski demikian, pemahaman tersebut dapat berubah, saat kita berada dalam kondisi yang mengajarkan betapa berharganya waktu. Misal, ketika kita atau teman mengalami kegagalan dalam ujian kenaikan kelas, kita akan memahami betapa berharga waktu satu tahun pembelajaran. Saat seseorang selamat dari kecelakaan, kita akan mengerti pentingnya waktu satu detik. Atau ketika seorang atlet lari kalah dalam olimpiade, kita dapat belajar bahwa waktu satu mili detik sangat berarti.

Waktu adalah kesempatan yang tidak akan terulang. Kesadaran akan pentingnya hal tersebut dapat membuat kita lebih bijaksana dalam mengatur waktu dengan baik.

Setiap detik bahkan mili detik dalam hidup kita sangatlah berharga. Setiap harinya kita mendapatkan waktu sebanyak 86.400 detik. Itu adalah “bahan baku” yang Tuhan berikan pada setiap kita untuk membangun dan menentukan hidup kita.

Setiap hal yang kita pilih untuk mengisi waktu kita pun turut membangun dan menentukan hidup yang kita miliki. Jika kita memiliki kesadaran ini, seharusnya kita dapat mengatur dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Pertanyaan yang dapat menjadi renungan dan bahan evaluasi adalah pukul berapa sekarang dalam jam kehidupanmu?  Apa yang telah dilakukan sebelum jam kehidupan yang sekarang? Apakah kita hanya tidur atau telah mencapai banyak hal? Setelah pukul jam kehidupan yang sekarang, apa yang akan kita lakukan? Sudahkah direncanakan secara matang dan baik?

Seseorang yang telah memiliki pengaturan waktu yang baik pasti memiliki prioritas dalam hidupnya. Kemampuan memprioritaskan sesuatu untuk dilakukan harus didahului dengan memetakan hal yang penting dan genting. Semua hal yang penting belum tentu genting untuk kita lakukan, namun sesuatu yang genting sudah pasti penting dilakukan.

Jika kita telah memiliki prioritas yang baik dan tepat dalam hidup artinya kita telah menghargai waktu yang telah dikaruniakan dari Tuhan. Dalam konteks panggilan kita sebagai seorang siswa, maka sudah seharusnya prioritas kita adalah memberi diri untuk terus belajar.

Mazmur 90:12 tertulis “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana”. Semoga ungkapan pemazmur tersebut menjadi kerinduan setiap kita untuk dapat mengatur waktu dengan baik serta menjadikan waktu sebagai sarana untuk memuliakan Tuhan.

Oleh: Ronald Kweniawan, M.Si, Guru PAK SMAK 5 PENABUR Jakarta