Kehadiran Yesus sebagai Pemimpin

Dalam Luk. 9: 7-9 mengisahkan tentang tampilnya Yesus di tengah orang banyak yang memang menarik perhatian. Tutur kata dan pengajaran-Nya yang penuh wibawa, kekuasaan-Nya yang ajaib dalam membuat mukjizat, sikap-Nya yang tegas dan tanpa takut sedikit pun kepada para pemimpin agama yang munafik. Semua itu menimbulkan pertanyaan: Siapakah Dia sebenarnya? Apakah Dia mau mencari pengaruh dalam masyarakat Yahudi untuk suatu hari memberontak melawan kekuasaan penjajah Romawi?

Perasaan gelisah, cemas dan ingin tahu juga menghinggapi Herodes. “Lalu ia berusaha supaya dapat bertemu dengan Yesus“ (Luk. 9: 9c), meskipun keinginannya itu dapat dipastikan jahat. Penguasa Romawi inilah yang dulu juga kagum dan hormat pada Yohanes Pembaptis. Tetapi karena gengsi dan ambisi kekuasaannya jauh lebih besar dari pada mencari kebenaran, maka kepala Yohanes akhirnya dipenggal atas perintah Herodes (Mat. 14: 1-12).
Namun, kebenaran tetap kebenaran. Kebenaran tidak dapat dihapus atau dimusnahkan dengan menghukum atau bahkan membunuh orang yang mengatakan benar.

Yesus datang dan berasal dari Kebenaran sejati. Kemunculan seseorang yang baru, jujur dan berani di masyarakat biasanya membuat resah dan gelisah para pemimpin yang ambisius dan korup. Mereka semua merasa terancam popularitas maupun kedudukannya. Hal ini terjadi pada zaman Yesus sampai saat ini, sehingga tidak mengherankan bila orang baru itu selalu menuai kontroversi sampai berita-berita bohong yang penuh kebencian tumbuh subur dan berseliweran di dunia maya.

Herodes ingin bertemu Yesus. Lalu bagaimana kelanjutannya? Jawabannya dapat kita temukan dalam kisah sengsara Yesus.

Para penulis Injil mau menekankan bahwa kedatangan Yesus bukanlah untuk menghimpun kekuatan massa dan menggulingkan kekuasaan Herodes. Kerajaan Allah yang diwartakan-Nya begitu berbeda, bahkan berlawanan dengan kerajaan duniawi. Kerajaan Allah tidak diperintah secara otoriter dan menakutkan, melainkan dengan cinta kasih dan keadilan. Kekuatan dan kekuasaan yang diberikan Yesus kepada para murid-Nya pun bukan bertujuan untuk mencari popularitas, sebaliknya untuk memberikan harapan, kesembuhan, kehidupan dan keselamatan bagi orang lain.

“Siapa gerangan Dia ini, yang kabarnya melakukan hal-hal demikian?” (ayat 9b) demikian rasa penasaran Herodes diselimuti rasa heran, penuh tanda tanya dan sebenarnya juga kagum akan Dia. Memang bagi Herodes saja, pribadi Yesus begitu mengagumkan, apalagi bagi para murid-Nya. Sayang, Herodes berhenti pada rasa kagum dan ingin tahu saja, tidak diteruskan ke tahap percaya.

Yesus datang dari “Kekuasaan” yang berbeda dari penguasa-penguasa mana pun di dunia ini. Kehadiran-Nya dapat menimbulkan kontroversi dan konflik, bahkan sempat membawa kematian. Begitulah kenyataan yang dihadapi dan dialami oleh para murid-Nya.  (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)