Panggilan Tuhan

Allah memanggil orang yang diutus-Nya pada saat mereka sedang melakukan kegiatan rutinitasnya: Musa dipanggil ketika sedang menggembalakan ternak milik Yitro, ayah mertuanya (Kel. 3: 1-10). Lewat Nabi Elia, Elisa dipanggil Tuhan ketika ia sedang membajak dengan 12 pasang lembu (1Raj. 19: 19). Tuhan menunjuk kepada Samuel seorang pemuda bernama Daud yang sedang menggembalakan ternak untuk jadi raja (1Sam. 16: 11-13).

Demikian pula Yesus, Ia memanggil dua bersaudara, Simon dan Andreas pada saat mereka menangkap ikan. Kemudian Ia juga memanggil kedua anak Zebedeus, yaitu Yakobus dan Yohanes, ketika mereka sedang membersihkan jala ayah mereka di dalam perahu (Mat. 4: 18-22).

Dalam Mat. 9: 9-13, Matius yang seorang pemungut cukai yang dipanggil Yesus pada saat ia sedang duduk bekerja di kantor cukai: “Ikutlah Aku” Maka berdirilah Matius, lalu mengikut Dia. (Mat. 9: 9b). Tindakan Yesus memilih dan memanggil Matius untuk menjadi rasul-Nya, dapat dikatakan tidak biasa. Sebab, Matius itu berprofesi pemungut cukai, suatu jenis pekerjaan yang dianggap hina dan jahat oleh orang-orang Yahudi.

Bertapa tidak? Hampir semua pemungut cukai itu pemeras rakyat, karena rakyat dipaksa bayar pajak yang tinggi tapi ia sendiri mengambil keuntungan dari pajak atau cukai yang dibayarkan. Maka mereka rata-rata dianggap “pengkhianat bangsa” atau “penjilat penjajah” atau “antek penjajah”. Kelompok orang yang berprofesi pemungut cukai dianggap sebagai orang pendosa.

Meski demikian, Yesus tetap memilih Matius. Mungkin sulit untuk kita pahami. Namun, itulah misteri suatu panggilan.

Tuhan justru memanggil orang-orang yang dicap sebagai pendosa, tersingkir atau sengaja dikucilkan dari pergaulan masyarakat, dan karena itu tidak pernah “diperhitungkan” oleh bangsanya sendiri. Tidak mengherankan bila orang-orang Farisi, kelompok masyarakat Yahudi yang “sok suci” dan merasa paling disiplin dan taat pada Hukum Taurat, menentang cara Yesus merekrut calon-calon rasul-Nya itu.

Apalagi setelah mereka melihat bahwa Yesus duduk satu meja dalam pesta syukur di rumah Matius bersama seluruh pemungut cukai. “Mengapa gurumu makan bersama-sama pemungut cukai dan orang berdosa?” (ayat 11), demikian pertanyaan orang-orang Farisi bernada protes kepada para murid-Nya. Yesus pun menjawab secara tepat: “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit” (ayat 12).

Melalui cara panggilan seperti Matius itu, Yesus bermaksud untuk memperlihatkan belas kasih Allah yang tidak terbatas. Tuhan mau mencari mereka “yang hilang” dan “yang berdosa” dan mau menyelamatkan mereka. Kita masing-masing pun sebenarnya dipanggil Tuhan untuk melayani masyarakat kita yang masih tertinggal dengan profesi tertentu yang berbeda-beda.

Panggilan Tuhan itu mungkin kita terima pada saat kita sibuk dengan pekerjaan harian kita. Apa pun bentuk kegiatan kita sehari-hari dan sekecil apa pun nilainya, namun kalau hal itu kita kerjakan dengan penuh semangat dedikasi, kejujuran dan keinginan kuat untuk menyelamatkan, membahagiakan dan menyejahterakan masyarakat seluruhnya, maka itu merupakan medan panggilan Tuhan bagi kita. Melalui pekerjaan yang tampaknya kecil, sederhana dan tak berarti sekalipun, kita dipanggil dan diutus-Nya.

Dari panggilan Matius itu, kita dapat menarik pelajaran juga bahwa tidak pada tempatnya jika kita meneruskan kebiasaan buruk kita yang mungkin masih suka memberi “cap jelek” atau bahkan “mengriminalisasi” seseorang atau sekelompok orang. Sebab, orang salah tidak selamanya salah, orang jahat tidak seterusnya jahat.

Selalu ada kemungkinan mereka berubah dan bertobat menjadi orang baik, lurus, jujur dan bertanggung jawab. Maka sebaiknya kita tidak mengucilkan dan menyingkirkan mereka. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)