Sikap Pengikut Kristus pada “Hoax”

“Dengan apakah akan Ku-umpamakan orang-orang dari angkatan ini dan dengan apakah mereka itu sama?” (Luk. 7: 31). Yesus mungkin kebingungan juga menghadapi para ahli Taurat dan orang-orang Farisi. Apa sebenarnya yang mereka inginkan? Semua yang dikatakan dan dikerjakan-Nya selalu dianggap salah atau dikritik dengan wajah “nyinyir”.

Bukan hanya Yesus, tapi Yohanes Pembaptis juga ikut difitnah. Yohanes dicap sebagai “orang kerasukan setan”, karena ia tidak minum anggur dan makan roti seperti layaknya orang lain. Sebaliknya, Yesus dianggap “pelahap dan pemabok” karena Ia suka makan-makan bersama orang-orang berdosa, seperti para pemungut pajak, kelompok yang sangat dibenci masyarakat Yahudi.

Andai kata Yesus dan Yohanes Pembaptis itu hidup pada zaman now, pasti di “bully” setiap saat di media sosial. Bisa-bisa berita hoax bersliweran terus ditujukan kepada Yesus dan Yohanes Pembaptis itu. Masyarakat akan beranggapan bahwa sikap dan pergaulan mereka sangat berbeda dengan apa yang mereka wartakan.

Kalau dikritisi, sebenarnya mereka itu bukan tidak senang pada gaya hidup Yesus dan Yohanes Pembaptis, melainkan karena kedua Nabi itu berkata dengan jujur, lugas dan berani mengatakan kebenaran tentang kemunafikan yang selama ini mereka lakukan.

Mereka jengkel sekali karena Yohanes selalu mencela perbuatan mereka yang salah serta terus menyerukan pertobatan dan pembaptisan. Lalu mereka selalu melihat dengan kacamata hitam pekat, hingga apa pun yang dikerjakan dan dikatakan oleh keduanya, selalu salah, tidak tepat, menyalahi Hukum Taurat dan lain sebagainya.

Biasanya kalau kita tidak senang pada seseorang, apa pun yang dikatakan atau dikerjakan orang itu, serba salah, tidak ada yang benar. Kita lalu mencari seribu satu alasan untuk mencari sisi-sisi lemah orang itu. Kalau bisa dikritik di depan publik, biasanya orang itu dilecehkan dan dijatuhkan nama baiknya. Bahkan dengan berita-berita “hoax” yang tidak sesuai dengan kebenarannya, nama baik mereka juga dicemarkan.

Jika para pengikut Kristus ikut arus hoax dan fitnah, sebenarnya itu berarti mereka menolak kebenaran. Dan menolak kebenaran itu sama saja dengan menolak Kristus sendiri, Sang Kebenaran Sejati.

Seorang pengikut Kristus tetap harus berkata dan bertindak dengan jujur dan benar serta bersikap yang adil. Berbagai media yang kita miliki  jangan digunakan sebagai ajang pembenaran untuk saling fitnah, saling sikut atau wadah untuk mengumbar kebohongan publik demi keuntungan diri sendiri.

Bercermin pada Kristus sendiri yang turun ke dunia ini hendak mewartakan Kebenaran, Keadilan, Kasih dan Damai sejati, maka kita pun harus dapat mengemban misi pewartaan di dunia politik dengan tetap terus berbicara yang benar, jujur, adil serta menebarkan suasana damai, rukun, bersatu dan tidak saling fitnah atau menebarkan berita hoax.

Motivasi hidup kita pun harus terus memperjuangkan kebenaran, keadilan, kedamaian dan kesejahteraan bersama. Selain itu, kita juga mengusahakan terus kesejahteraan umum – bukan kesejahteraan pribadi, keluarga atau kelompok sendiri – dengan cara-cara yang cerdas, jujur, terpuji, santun dan beradab. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)