Mengasihi Musuh

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu, berdoalah bagi orang yang mencaci kamu” (Luk. 6: 27, 28).

Entah berapa kali sudah kita membaca atau mendengar ayat ini. Bahkan kita pun sering ucapkan Sabda Tuhan itu, dan sering kita posting di fb, twitter atau instagram bila kita mau menghibur atau mendampingi saudara/sahabat/teman kita yang sedang disakiti.

Tetapi jika kasus yang serupa menimpa diri kita, apa reaksi kita? Mungkin kita akan menggerutu sendiri : “Ah itu cuma teori! Kayaknya hanya Yesus dan orang kudus yang mampu menjalankannya! Kalau aku? Sorry deh, aku bukan Yesus! So nggak mungkin bisa aku jalankan!”

Yesus memang tidak tanggung-tanggung. Cara mengasihi yang diajarkan kepada kita terasa tidak masuk akal dan tidak rational. Ratio atau akal memang merupakan anugerah Tuhan, kita harus senantiasa menggunakannya. Tetapi hanya memusatkan atau mengandalkan ratio saja dan mengabaikan kasih, kita bisa keliru. Hanya mengagungkan akal, kita bisa terjerumus ke dalam jurang kesombongan-suatu sikap yang sangat tidak berkenan kepada Tuhan.

Seperti dalam 1Kor 8: 1b-7 : “Pengetahuan yang demikian membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun. Jika ada seorang menyangka, bahwa ia mempunyai sesuatu “pengetahuan”, maka ia belum juga mencapai pengetahuan, sebagaimana yang harus dicapainya. Tetapi orang yang mengasihi Allah, ia dikenal oleh Allah” (1Kor. 8: 1 -3).

Jadi, kasih mendekatkan Tuhan pada kita dan sesama. Kasih bukan hanya dimulut, tetapi harus terlaksana dalam tindakan. Dan cinta kasih Kristiani yang sejati itu bukan hanya kita lakukan terhadap orang yang berjasa/ berbuat baik atau mengasihi kita, tetapi juga (dan terutama) kepada orang yang menyakiti hati/ menyingkirkan dan memusuhi kita. Dan kalau kita mengaku pengikut bahkan murid Kristus, harus sampai pada taraf “mengasihi musuh”. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)