Kebahagiaan Sejati

Semua orang merindukan kebahagiaan. Kapan kita disebut bahagia? Biasanya orang akan mengukur kebahagiaan dari sudut pemenuhan kebutuhan duniawi : bila ia cukup banyak harta, pangkat atau jabatan yang memadai, anak-anak sehat dan dapat sekolah dengan lancar, mempunyai rumah yang permanen dan kendaraan untuk mobilitas, bisa berlibur bersama keluarga secara rutin dan lain-lain.

Tetapi Yesus dalam Luk. 6: 20-26, memberikan kriteria mengenai kebahagiaan yang lain sama sekali dari apa yang dibayangkan oleh manusia. “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah. Berbahagialah, hai yang sekarang ini lapar, karena kamu akan dipuaskan. Berbahagialah, hai kamu yang sekarang ini menangis, karena kamu akan tertawa” (Luk. 6: 20-21).

Aneh kedengarannya! Apakah ini berarti Yesus menginginkan semua orang harus hidup miskin, pakaian compang-camping, perut lapar dan mengais-ngais cari makanan di tempat sampah, sambil menangis, karena merasa tertindas dan menderita terus? Apakah Dia mengutuk kekayaan dan menginginkan kemiskinan serta kelaparan?

Pasti bukan demikian! Kekayaan yang diperoleh secara sah dan sebagai hasil kerja keras adalah berkat dari Tuhan juga. Namun, adalah suatu kenyataan kehidupan ini bahwa orang sering menjadi lupa Tuhan kalau hidup bergelimang dengan kemewahan dan kondisi serba ada.

Yang dimaksud dengan “miskin” adalah semangat dan sikap yang bebas lepas dari harta benda dan ciptaan lain di dunia ini. Ia tidak merasa tergantung 100% , tetapi ia menggunakan harta benda serta materi lainnya hanya sebagai sarana atau alat seperlunya dalam mencari atau menuju pada keselamatan kekal. Maka harta dan segala materi tidak dijadikan tujuan utama hidupnya.

Manusia diciptakan Tuhan dimaksudkan untuk memuji dan bersyukur kepada-Nya, mengabdi dan memuliakan Nama-Nya melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Di sinilah fungsi harta dan segala materi itu: hanya alat atau sarana bukan tujuan.

Maka, jika sarana itu mengganggu kita dalam mencapai tujuan yaitu keselamatan kekal, hendaknya sarana itu diganti, disingkirkan atau dibuang. Dengan harta atau materi seperlunya yang kita miliki, diharapkan kita semakin “dirajai atau dikuasai” oleh Tuhan, dekat dengan Dia, dapat berdamai dengan Dia, dengan sesama manusia dan dengan ciptaan-Nya yang lain. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)