Kita Pemersatu dan Pembaharu

Dalam Luk. 5: 33-39 dikisahkan bahwa orang-orang Farisi sangat usil dan ingin menghasut murid-murid Yohanes. Mereka mulai membanding-bandingkan antara murid Yohanes dan murid Yesus. Selain untuk mengadu domba, orang-orang Farisi ini ingin menjatuhkan martabat Yesus di mata masyarakat Yahudi. Mereka mengkritik Yesus secara terbuka : “Murid-murid Yohanes sering berpuasa dan sembahyang, demikian juga murid-murid orang Farisi, tetapi murid-murid-Mu makan dan minum” (Luk. 5: 33).

Kritik tersebut mengandung niat tidak baik, yaitu mau saling adu domba dan menjatuhkan nama baik, khususnya dalam hal menjalankan kewajiban beragama. Apa pun agamanya, sebenarnya semua mengajarkan kedamaian dan kasih di antara semua orang.

Namun, dalam kehidupan sehari-hari nampaknya hal itu belum terwujud. Sering terjadi di kalangan internal agama yang sangkutan ataupun dalam hubungan antar agama timbul suasana kritik tidak sehat, saling menjatuhkan, saling ejek hingga terjadi gesekan sosial bahkan sampai pada tindak kekerasan dan pemaksaan kepada kelompok lain.

Dan yang paling menyeramkan adalah apabila suatu ajaran keyakinan tertentu dijadikan legitimasi untuk meniadakan kelompok keyakinan yang lain. Di situlah pasti akan timbul kerusuhan, konflik secara horisontal di dalam masyarakat dan bahkan meletuslah terorisme.

Baik peristiwa pada zaman Yesus, maupun kasus yang terjadi pada zaman sekarang kalau kita renungkan secara tenang, sebenarnya cenderung lebih banyak didorong oleh rasa iri hati, cemburu dan arogansi. Orang Farisi dan ahli Taurat yang bersikap “sok suci” dan “sok pinter” merasa “tersaing” dan “kalah populer” dengan Guru Muda dari Nazaret, padahal Dia “cuma seorang tukang kayu”! Maka mereka mulai melancarkan kritik yang menjatuhkan, bahkan kadang berita bohong yang menyesatkan (fitnah).

Menghadapi suasana seperti itu – andai kata terjadi di daerah kita – apa sikap kita sebagai pengikut Kristus? Mampukah kita tetap menebarkan kasih, persaudaraan sejati, damai dan persatuan serta rasa saling menghormati di antara masyarakat yang bhinneka ini? Ataukah kita ikut asyik sendiri dalam gerakan provokasi, insinuasi dan melancarkan “hoax”? Betapa pun kita beda suku, latar belakang budaya atau keyakinan politik namun sebagai pengikut Kristus kita harus mampu menunjukkan diri sebagai “pemersatu masyarakat dan bangsa”, “penggerak pembaharuan” dan “inisiator dalam berbuat amal dan kasih kepada siapa pun tanpa sikap diskriminatif”. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)