Dalam Doaku, Allah Andalanku

“Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah” (Luk. 6: 12). Baru pada siang hari Ia memanggil dan memilih dua belas murid untuk dijadikan rasul-Nya.

Yesus sebelum memulai Karya-Nya selalu menimba kekuatan dari Bapa-Nya dalam keheningan doa. Doa membuat Yesus melihat, menyimak, dan memahami lebih jelas apa yang dikehendaki Bapa. Doa membuat Dia dan Bapa-Nya bersatu dalam kekuatan cinta kasih untuk mempersiapkan Karya Penyelamatan-Nya.

Itulah yang dikerjakan Yesus, sebelum Ia memanggil, menunjuk dan menetapkan kedua belas Rasul-Nya untuk dididik dan dipersiapkan secara khusus guna melanjutkan Karya Penebusan-Nya di dunia ini. Proses pemilihan para Rasul tidak didahului dengan berbagai seremoni, melainkan dengan doa, sebab dalam doa ada penerangan, pencerahan dan kekuatan serta pemahaman tentang Kehendak Allah. Dalam keheningan, kesadaran-Nya yang Ilahi dan manusiawi bersatu, melebur dalam kekuatan rohani yang luar biasa, sebab di sanalah Roh Kudus berkarya.

Setelah mendapatkan petunjuk dan kekuatan dari Bapa dengan diterangi oleh Roh Kudus, Yesus mengajak kedua belas Rasul untuk berkeliling melayani orang-orang yang berdatangan dari Yudea, kota Yerusalem bahkan sampai Tirus dan Sidon. Yesus mengajar, mewartakan Kabar Gembira dan menyembuhkan berbagai penyakit serta mengusir roh-roh jahat yang menguasai mereka.

Yesus sudah memberikan teladan nyata, yaitu jika kita hendak mencari penerangan dan kekuatan sejati hanyalah terdapat dalam doa. Dalam doa Yesus dan kita semua dapat menimba kekuatan dari Sang Sumber Rakhmat.

Menilik latar belakang para Rasul, ternyata sebagian besar datang dari kalangan orang tidak terdidik, tidak seperti para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka adalah para nelayan, petani, bahkan seorang “pemeras rakyat” (pemungut cukai) telah dipilih-Nya. Kedua belas Rasul itu mendapat panggilan, kesempatan, kuasa dan misi perutusan yang sama.

Namun dalam perjalanannya Yudas Iskariot menentukan jalannya sendiri. Dengan “kasus Yudas Iskariot” ini menjadi pelajaran buat kita bahwa sekali pun kita sudah merasa dipanggil dan dipilih Tuhan, tidak berarti semua itu akan berjalan secara otomatis seperti apa yang dikehendaki dan direncanakan Tuhan. Sebab, manusia tetap mempunyai kehendak bebas untuk menentukan sendiri ke mana ia akan pergi.

Sehubungan dengan kesetiaan akan panggilan hidup, Paulus menasihati para jemaat di Korintus dalam 1Kor. 6: 1-11, agar dalam seluruh kehidupan semestinya kuasa Allah yang menjadi andalan kita, bukan yang lain. Dengan mengandalkan kuasa Allah, maka buah kehidupan yang kita hasilkan adalah buah keselamatan.

Namun, bila kita mengabaikan Allah dan kuasa-Nya, akhirnya kehidupan ini hanya akan melahirkan ketidakadilan dan kerugian bagi sesama. “Tetapi kamu sendiri melakukan ketidakadilan dan kamu sendiri mendatangkan kerugian, dan hal itu kamu buat terhadap saudara-saudaramu” (1Kor. 6: 8).(Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)