KESOMBONGAN YANG MEMBUTAKAN

Karena engkau sangat pandai berdagang engkau memperbanyak kekayaanmu, dan karena itu engkau jadi sombong (Yeh 28:5) 

Bekerja mencari dan mengumpulkan uang memang tidak gampang. Orang harus putar otak, cari cara, juga harus tekun, ulet, kreatif, bekerja keras sampai akhirnya memperoleh kekayaan. Mungkin, karena itulah maka banyak orang jatuh dalam kesombongan kalau sudah ‘berhasil mengumpulkan’ kekayaan. Mereka merasa kekayaannya merupakan hasil usaha dan jerih payah mereka semata-mata. Mereka berbanggabangga atas hebatnya usaha mereka dan cerdiknya taktik bisnis mereka, bahkan ada yang bangga atas kelicikan-nya. Mereka buta terhadap tangan Allah yang sebetulnya merupakan penentu utama keberhasilan mereka. Tanpa Tuhan, semua usaha mereka sia-sia.

Raja Tirus menjadi sombong karena kesuksesannya. Hatinya menempatkan diri sama dengan Allah dan berkata, ‘Aku adalah Allah.’ Maka, Tuhan berkata akan mengirimkan bangsa paling ganas untuk melawan dan membunuhnya. Terdengar sadis, bukan? Akan tetapi, manakah lebih baik: mati terbunuh dengan hati bertobat kepada Tuhan dengan rendah hati dan akhirnya memperoleh keselamatan jiwa, ataukah hidup dalam kesombongan yang membutakan dan menyesatkan, lalu pada saatnya mati dalam kelimpahan harta, tetapi kehilangan keselamatan jiwa? Walaupun terasa keras, teguran Tuhan adalah teguran kasih, untuk kebaikan kita.

‘Tuhan, buatlah kami waspada agar tidak pernah mengatakan, ‘Aku adalah Allah’ dengan satu atau lain cara dalam hidup kami’.

Sumber:
Buku renungan harian “SABDA KEHIDUPAN”