Pusat Pelayanan Kita Adalah Tuhan

Kita semua pasti ingin sehat. Orang sakit – apalagi yang sudah bertahun-tahun menderita – berusaha dengan segala cara ingin sembuh, baik ke dokter maupun dengan jalan penyembuhan alternatif. Orang sehat pun berusaha menjaga kesegaran dan kebugaran tubuhnya agar tetap sehat. Kesehatan begitu pentingnya bagi manusia hingga berapa pun biayanya tidak segan-segan orang akan mengeluarkan uangnya.

Dalam Luk. 4: 38-44, dikisahkan bagaimana Yesus memulihkan kembali kesehatan badan ibu mertua Petrus. Gara-gara demam ia tidak dapat menjalankan tugas hariannya. “Maka Ia berdiri di sisi perempuan itu, lalu menghardik demam itu, dan penyakit itu pun meninggalkan dia. Perempuan itu segera bangun dan melayani mereka” (Luk. 4: 39).

Dan rupanya bukan hanya ibu mertua Petrus, melainkan orang-orang sakit lainnya begitu mendengar Yesus berada di sana, berdatanglah banyak orang sakit yang menderita berbagai macam penyakit. Mereka yang sedang kesurupan setan pun dibawa kepada Yesus dan segera diusir-Nya setan-setan itu. Penyembuhan orang sakit fisik maupun mental ini dikerjakan Yesus sampai larut malam. Dengan sabar Ia menumpangkan tangan-Nya satu per satu di atas kepala para penderita itu. Dan mereka segera sembuh.

Keberhasilan menyembuhkan berbagai penyakit di Kapernaum, tidak membuat Yesus “lupa Diri”. Esok harinya Ia sudah berangkat lagi dan sebelum mengajar serta menyembuhkan orang sakit. Tidak lupa Yesus juga “pergi ke tempat yang sunyi” untuk berdoa kepada Bapa-Nya. Ternyata Ia disusul orang banyak yang mencari Dia dan menginginkan agar Dia dapat tinggal lebih lama lagi di Kapernaum. Tetapi Ia berkata kepada mereka : “Juga di kota-kota lain, Aku harus memberitakan Injil Kerajaan Allah, sebab untuk itulah Aku diutus” (ayat 43).

Dari kisa Yesus tersebut kita dapat belajar :
Pertama, dalam menjalankan tugas pelayanan baik di kalangan internal gereja maupun di tengah masyarakat atau di tempat kesibukan sehari-hari kita jangan melupakan berdoa kepada Tuhan yang menjadi pusat hidup kita. Dia-lah Inti dan Pusat pelayanan kita! Pelayanan apa pun bila tidak diawali dengan doa, akan kering dan layu.

Kedua, keberhasilan dalam kerasulan atau pelayanan jangan membuat kita sombong, membusungkan dada dan bahkan meremehkan orang lain. Baik keberhasilan maupun kegagalan marilah kita bawa dalam doa, kita serahkan kepada Tuhan dan kita tetap siap untuk dijadikan alat-Nya.

Ketiga, pada hakikatnya kerasulan atau pelayanan itu untuk melayani kepentingan dan kesejahteraan umum (bonum commune), tidak terbatas untuk wilayah atau daerah tertentu (seperti Yesus tidak hanya Kapernaum tetapi juga kota-kota lain), juga tidak dibatasi untuk golongan atau kelompok tertentu melainkan untuk semua orang, tanpa sikap yang diskriminatif.

Paulus yang dibakar semangatnya oleh Yesus, juga menjalani prinsip pelayanannya seperti Gurunya. Bahkan ia berpesan agar kita jangan terjebak untuk “mengkultuskan seseorang” sehingga terjadi perpecahan di kalangan umat. Ia berpesan kepada jemaat di Korintus, agar bersatu dan jangan terpecah-belah atau diadu-domba karena merasa “aku dari golongan Paulus” dan yang lain menganggap “aku dari golongan Apolos”, padahal keduanya hanyalah pelayan Tuhan.

Secara tegas Paulus berkata : “Aku menanam, Apolos menyiram, tetapi Allah yang memberi pertumbuhan. Karena itu, yang penting bukanlah yang menanam atau yang menyiram, melainkan Allah yang memberikan pertumbuhan” (1Kor. 3: 6-7). Jadi jelas, inti atau pusat pelayanan adalah Tuhan, bukan manusia! (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)