Ia Datang untuk Kita

Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin, dan Ia telah mengutus Aku, untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang- orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang” (Luk. 4: 18-19, dari Yes. 61: 1-2).

Yesus menggunakan kutipan Nabi Yesaya untuk menyatakan tujuan Dia datang ke dunia ini. Dia datang tidak pertama-tama untuk mendirikan suatu lembaga yang disebut Gereja. Dia datang untuk membawa keselamatan, kesembuhan dan pembebasan kepada semua bangsa, semua orang. Yang dituju bukan saudara atau kerabat-Nya, atau orang sekampung-Nya, melainkan justru orang-orang kecil: mereka yang miskin, tertindas, penyakitan dan terbelenggu.

Lalu Ia memberi contoh Nabi Elia yang justru menyelamatkan hidup seorang janda miskin di Sarfat, kawasan Sidon yang dianggap bukan daerah Yahudi. Demikian pula Nabi Elisa yang menyembuhkan penyakit kusta seorang perwira “kafir” dari Siria. Inilah yang menyebabkan orang-orang sekampung-Nya di Nazaret itu merasa “keki” dan marah. Lalu mereka mengusir-Nya, bahkan mau mencelakakan-Nya, tetapi Ia berhasil lolos.

Emosi sombong, iri, benci, dendam dan marah memang dapat menutup hati kita untuk berbuat kebaikan. Sebaliknya, sifat dan kebiasaan negatif itu akan menjauhkan kita dari keselamatan.

Yesus mengakui bahwa sebelum berkarya, Roh Tuhan telah mengurapi Diri-Nya dan Roh itu selalu menyertai-Nya. Mengurapi berarti memberikan kekuasaan dan wewenang sebagai orang pilihan sebagai penguasa atau raja. Yesus sebagai Anak Allah secara istimewa diurapi oleh Roh Kudus, setelah berpuasa selama 40 hari dan sebelum menjalankan tugas mengajar serta memberitakan Kabar Gembira. Kita pun sebagai orang yang diangkat menjadi “anak-anak Allah” melalui pembaptisan juga telah diurapi dengan Roh Kudus.

Dalam 1Kor. 2: 4-5, Paulus juga mengakui bahwa dalam mewartakan YESUS yang tersalib tidak dengan “kata-kata yang indah”…..”Baik perkataanku maupun pemberitaanku tidak kusampaikan dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh, supaya iman kamu jangan tergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah”. (Lucia Febriarlita-dari berbagai sumber)