Berjaga-Jaga dan Siap Siaga

Yesus Mat 24: 42-51, secara khusus berpesan tentang hari penghakiman terakhir yang mau atau tidak mau pasti akan datang. Sabda-Nya : “Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhan-mu datang” (Mat. 24: 42). Dengan kata lain, setiap waktu kita, sebagai pengikut setia Kristus, diminta untuk siap sedia, karena Anak Manusia akan datang pada saat yang tak terduga sama sekali.

Memang untuk suatu kesempatan yang belum pasti, rasanya sikap paling tepat adalah hanya satu, yaitu bersikap siaga atau selalu siap dan berjaga-jaga, kapan pun Dia datang kita sudah siap untuk memenuhi ajakan-Nya. Kesibukan harian akibat banyaknya tugas dan pekerjaan yang harus diselesaikan untuk memenuhi kebutuhan hidup, sering kali membuat kita lupa dan terlena. Hati dan pikiran kita hanya fokus pada satu hal, yaitu bagaimana kita selesaikan tanggung jawab kita demi menjaga reputasi, keuntungan dan kelanjutan usaha kita.

Alasan ini cukup masuk akal. Tetapi alasan rasional ini jangan digunakan sebagai pembenaran untuk tidak bersikap siaga atau dianggap tidak perlu berjaga-jaga.

Kita harus mendasarinya dengan alasan iman: kita percaya bahwa hidup di dunia ini bersifat sementara. Ada tujuan yang harus kita capai, yaitu kehidupan kekal. Dengan demikian, segala hal yang kita pikirkan, rencanakan dan laksanakan selama kita diberi kesempatan untuk hidup di dunia ini harus sesuai dengan tujuan akhir: kehidupan kekal yang penuh dengan kekudusan, damai, sukacita dan ketenteraman.

Paulus dalam 1Kor. 1: 1-9 mengingatkan kita bahwa kita termasuk orang “yang dikuduskan dalam Kristus Yesus dan yang dipanggil menjadi orang-orang kudus dengan semua orang di segala tempat” (1Kor. 1: 2). Kudus, dalam pengertian Alkitab, adalah orang atau barang yang dimiliki oleh Tuhan. Orang yang sudah dibaptis berarti telah dipersembahkan untuk Tuhan dan menjadi milik Tuhan. Maka selayaknya kita selalu menjaga martabat sebagai “orang kudus” selama hidup di dunia ini.

Tentu karena kelemahan kita, pastilah kita suatu saat menyimpang dari jalan kekudusan dan jatuh ke dalam dosa. Untuk itu, telah disediakan jalan pertobatan. Dengan demikian, pertobatan itu harus dilakukan setiap hari, bahkan setiap saat.

Dalam doa malam, kita semestinya selalu meneliti apa yang telah kita lakukan selama hari itu. Terutama terhadap hal-hal yang membuat kita menjauh dari Tuhan, kita akui dan kita mohonkan pengampunan dan tobat. Maka sikap siaga atau berjaga-jaga dapat kita lakukan dengan jalan pertobatan.

Namun demikian, berjaga-jaga bukan berarti kita sikapi sebagai suatu hal yang menakutkan dan menyeramkan. Ingatlah, bahwa anjuran berjaga-jaga bukan didorong oleh kehendak untuk menakut-nakuti karena kematian dianggap yang menyeramkan. Bagi orang yang telah dikuduskan dalam Kristus, kematian harus disikapi sebagai suatu momentum atau kesempatan baik yang dinanti-nantikan, karena hanya melalui kematianlah kita akan sampai pada kehidupan kekal dan berjumpa dengan Tuhan sendiri.

Tetapi karena kita tidak tahu kapan Kristus itu datang menjemput kita, maka kita harus tetap berjaga-jaga. Dengan sikap iman, berjaga-jaga harus kita artikan sebagai saat menanti Sang Kekasih yang kita cintai dan mencintai kita, yaitu Kristus sendiri.

Kita selalu bersiap-siap seperti menata rumah atau mempersiapkan hidangan jika akan kedatangan orang yang kita cintai dan hormati. Pasti ada rasa rindu, senang dan berharap agar segera bertemu. Dengan sikap iman seperti itulah berjaga-jaga atau sikap siaga, kita persiapkan dan kerjakan dengan penuh rasa sukacita, tanpa rasa takut atau khawatir sama sekali. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)