Seperti Ahli Taurat dan Orang Farisi

“Celakalah kamu, hai ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, hai kamu orang munafik, sebab persepuluhan dari selasih, adas manis dan jintan kamu bayar, tetapi yang terpenting dalam hukum Taurat kamu abaikan, yaitu keadilan dan belas kasihan dan kesetiaan. Yang satu harus dilakukan dan yang lain jangan diabaikan” (Mat. 23: 23).

Berbeda dengan Sabda Bahagia yang mengandung ajaran-ajaran yang penuh dengan optimisme, semangat dan menyejukkan, kali ini dalam Mat. 23: 23-26 sungguh keras dan pedas kecaman Yesus kepada para ahli Taurat dan kaum Farisi. Mereka itu lebih mengutamakan hal-hal lahir dari pada hal-hal batin. Kebersihan luar lebih penting dari pada kebersihan di sebelah dalam (batin, hati).

Teguran Yesus itu dapat menjadi bahan permenungan kita sebagai orang beriman pada masa kini. Ketika agama menjadi ketetapan negara yang harus dimiliki dan dijalankan oleh semua warga negara, kita berada dalam bahaya untuk jatuh dalam kesalahan sikap seperti orang Farisi dan ahli Taurat itu. Di samping itu, kondisi itu juga tidak sesuai dengan semangat Pancasila yang kita letakkan sebagai dasar fondasi kita dalam hidup bersama.

Hidup sebagai orang beriman memerlukan sikap sepenuh hati, baik dalam pikiran, perasaan maupun perbuatan. Kita jangan terjebak pada rumusan atau aturan yang mendetail dan bertele-tele, tetapi melupakan hal yang pokok, utama dan esensial. Kita lupa pada hal utama yang harus diperhatikan dan menjadi pegangan dalam melaksanakan ketentuan-ketentuan yang ada. Bahkan sampai pada keadaan aturan yang rinci dipenuhi, tetapi yang utama dan semangat dasarnya tidak dipedulikan. Kalau itu yang terjadi, hidup beriman akan dangkal dan munafik, yaitu tampak saleh dari luarnya saja, tetapi sebenarnya tidak sungguh-sungguh sampai pada intinya, yaitu kasih Allah.

Dalam 2 Tes 2: 1-13 juga mengingatkan kita yang telah dipanggil dan dipilih Allah untuk diselamatkan. Peringatan Paulus itu sekaligus juga suatu peneguhan bagi kita, agar kita jangan ikut-ikut bingung dan gelisah dengan adanya ajaran-ajaran sesat. Paulus menyerukan agar kita lebih fokus pada hal-hal yang lebih penting.

Selain itu, Paulus juga menghimbau untuk selalu bersyukur karena telah dikasihi Tuhan, “sebab Allah dari mulanya telah memilih kamu untuk diselamatkan dalam Roh yang menguduskan kamu dan dalam kebenaran yang kamu percayai” (2Tes. 2: 13). Maka Paulus menekankan lagi : “Berdirilah teguh dan berpeganglah pada ajaran-ajaran yang kamu terima dari kami, baik secara lisan maupun secara tertulis” (ayat 15).

Dalam kemajuan digital saat ini, kita sering dibuat bingung dan resah oleh adanya berita-berita bohong atau saling mencerca dan menjatuhkan. Padahal masyarakat tahu bahwa yang melemparkan kecaman atau kritik itu tidak sepenuhnya benar dan konsekuen, kadang malah cenderung munafik. Sebagai orang beriman, kita tidak perlu ikut-ikutan dalam arus menebarkan kebencian dan saling bermusuhan. Sebaliknya, kita harus dapat meniupkan angin kesejukan dan kedamaian dalam masyarakat.

Augustinus, putra Monika yang menjadi pengikut Kristus. Semula ia adalah seorang muda yang hidupnya lebih mengandalkan pada hal-hal yang duniawi. Kecerdasannya membawa dia bersikap sombong terhadap hal-hal yang dianggapnya tidak “ilmiah”: “Kitab Suci terlalu sederhana bagiku! Tak akan menambah pengetahuanku sedikit pun” , demikian sanggahnya. Tidak heran bila hidupnya diisi oleh foya-foya dan jatuh pada pergaulan bebas.

Ibunya, Monika sangat prihatin dengan karakter anaknya itu. Ia pun terus berdoa siang dan malam agar anaknya itu kembali ke jalan Tuhan. Dak akhirnya, berkat anugerah Tuhan, Augustinus akhirnya bertobat.

Berbeda dengan orang-orang Farisi yang munafik dan memandang hukum Taurat sebagai kewajiban dan beban yang memberatkan, bagi Augustinus yang telah beriman, Tuhan adalah Sumber Kasih dan Kedamaian, meskipun ia menyadari bahwa dirinya terlambat dalam mencintai Tuhan.

Setiap orang yang mencari Tuhan, akan merasakan denyut rohani yang mirip seperti dialami Augustinus. Di satu sisi terdapat dorongan kuat untuk mengejar segala kenikmatan duniawi, tetapi di lain sisi juga muncul kecemasan dan kesebalan akan hal-hal duniawi itu. Untuk itu ia anjurkan agar kita terus menggapai Sumber Kedamaian itu. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)