Kasih untuk yang Lemah

 

Ketika Yesus memasuki kota kecil Nain, di pintu gerbang kota Dia bersama para murid-Nya berjumpa dengan rombongan duka yang membawa seorang anak muda yang baru saja meninggal. Anak muda itu adalah anak tunggal yang menjadi tumpuan hidup kelak bagi si janda. Maka perpisahan untuk selamanya dengan si anak kesayangannya itu pasti merupakan pukulan hebat bagi janda itu.

“Dan ketika Tuhan melihat janda itu, tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan. Lalu Ia berkata kepadanya: ‘Jangan menangis!’ “ (Luk. 7: 13). Rasa iba dan belas kasih Yesus itu tulus keluar dari hati-Nya. Dia bisa membayangkan bagaimana tumpuan harapan hidup bagi masa depan si janda itu, sekarang sudah runtuh berantakan. Maka Yesus kemudian menyentuh jenazah anak muda itu sambil berseru: “Hai anak muda, Aku berkata kepadamu: Bangkitlah!” (ayat 14). Maka bangunlah anak itu dan ia mulai berbicara.

Tentu peristiwa yang menakjubkan itu membuat gempar pada isi seluruh kota. Tapi Yesus tidak ingin membuat sensasi. Mukjizat yang dilakukan-Nya bukan untuk mencari popularitas dan menaikkan “rating nama-Nya” di daerah Yudea. Jauh dari motivasi pamer diri dan cari popularitas, Yesus semata-mata hanya tersentuh hati-Nya dan berbelas kasih pada si ibu yang berduka itu.

Dia sangat peduli dan berbela rasa pada orang kecil, lemah dan dipandang sebelah mata oleh masyarakat Yahudi. Apalagi hati si ibu itu pasti terpukul hebat karena tumpuan harapan masa depannya kini telah runtuh. Yesus ingin menunjukkan kuasa Ilahi atas kehidupan manusia dan juga sekaligus belas kasih dan bela rasa-Nya kepada orang-orang kecil yang tidak mendapat tempat dalam masyarakat. Jadi, Yesus tidak asal saja membuat mukjizat, tapi orang kecil itu memang perlu bantuan dan perhatian. Itulah Hati Allah yang sesungguhnya, yaitu senantiasa peduli dan berbela rasa pada yang lemah, kecil, miskin dan tersingkir.

Mukjizat atas janda yang berduka itu juga terjadi dalam diri Monika. Dia adalah istri dari seorang pegawai tinggi di Thagaste (Afrika Utara) bernama Patrisius dan ibu dari Agustinus. Baik suami maupun anak lelakinya membuat hatinya remuk redam.

Patrisius, suami Monika masih memilih hidup yang jauh dari Tuhan. Bahkan ia sangat mengecilkan arti dan meremehkan upaya Monika dalam mendidik anaknya, Agustinus untuk hidup saleh. Sementara Agustinus sendiri sangat bandel dan berantakan hidupnya: suka foya-foya dan bergaul bebas dengan sembarang perempuan.

Meski demikian Monika terus tekun berdoa setiap hari untuk keselamatan jiwa kedua orang yang dicintainya itu. Hingga akhirnya, Tuhan tersentuh, lalu berbelas kasih dan mengabulkan doanya: Patrisius dan Agustinus bertobat dan menjadi pelayan Kristus yang setia. Inilah puncak kebahagiaan Monika, kedua orang yang dicintainya berhasil kembali pada TUHAN. (Lucia Febriarlita – dari berbagai sumber)