Rainun, Putri Ilalangku

Rainun, Putri Ilalang yang secara ajaib hidup kembali dan dapat bersatu dengan kekasihnya, Rajo Mudo. (Foto: Florencia)

Bawa aku pergi bersama cintamu

Terasa di sini di hati

Sanubari

Itu Cinta

Alkisah tentang seorang gadis bersama Rainun yang gemar bermain di padang ilalang. Ia memiliki kekasih bernama Rajo Mudo, seorang pemuda yang cerdas dan kaya ilmu pengetahuan. Dan di padang ilalang itulah ia sering memadu kasih.

Suatu ketika, Rajo Mudo hendak pergi merantau, mencari ilmu pengetahuan dan menggapai cita-citanya sebagai ahli obat-obatan. Konsekuensinya, ia harus meninggalkan kampungnya dan tentu saja meninggalkan Rainun. Meski demikian ia tetap pergi dengan janji akan segera kembali untuk melamar Rainun.

Sementara Rajo Mudo merantau, Rainun yang tetap tinggal di kampungnya di wilayah Jambi terus didatangi oleh lelaki dari berbagai negeri. Mereka datang untuk melamar Rainun. Hal ini adalah inisiatif dari ayahnya yang menginginkan menantu kaya raya.

Rainun terus menolak, tapi ayahnya terus memaksa hingga akhirnya ia menyerah dan mengikuti kemauan ayahnya. Ia pun menikah dengan seorang kaya pecinta uang dari kampung sebelah. Sayang, ia hidup tersiksa bersama lelaki yang sama sekali tidak dicintainya.

Sekembalinya Rajo Mudo dari perantauan, ia menemukan bahwa Rainun telah dipinang lelaki lain. Ia sangat frustasi dan marah hingga membuang cincin kawin yang hendak ia berikan kepada Rainun di padang Ilalang.

Cincin itu pun ditemukan oleh Rainun yang tahu pasti bahwa itu adalah cincin dari Rajo Mudo. Merasa bahwa kondisinya kini telah berbeda, ia sangat sedih dan menyesali keputusannya menikah dengan lelaki lain. Putus asa, ia pun bunuh diri.

Ketika Rajo Mudo mendapati Rainun telah meninggal ia bertambah frustasi. Atas inisiatif seorang warga, ia menemui seorang dukun bernama Kakek Rubiah yang bisa menghidupkan orang mati. Ia pun meminta agar Rainun dapat hidup kembali.

Akhirnya, Rainun hidup meski semua ingatan dalam memory hilang. Walau demikian, Rajo Mudo tetap kembali mendapatkan hati Rainun dalam pelukannya di tengah padang ilalang.

Itulah cerita berjudul “Putri Ilalang” yang dipentaskan oleh Teater Caneta SMAK 5 PENABUR Jakarta pada Rabu malam, 6 Juni 2018. Pertunjukan ke sebelas yang dimainkan oleh siswa-siswa SMAK 5 itu diadakan di Auditorium Gedung Yustinus Universitas Atmajaya, Jakarta. Sekitar dua ratus penonton dari berbagai kalangan hadir menyaksikan pertunjukan itu.

Pembimbing Teater Caneta, Daniel Mangaraja, S.E., mengungkapkan bahwa “Putri Ilalang” ingin menyampaikan pesan kesetiaan pada penikmatnya. “Hidup itu perlu setia. Meskipun banyak hambatan yang menghalangi, kita harus tetap setia pada prinsip hidup yang kita yakini baik,” terangnya.

Selanjutnya, Daniel merangkan bahwa cerita “Putri Ilalang” merupakan karya buatan oleh siswa SMAK 5 juga bernama Jonathan Hartanto. Proses kreatifnya, anak-anak sendiri lah yang menjadi produser, sutradara, pengatur musik, bahkan make up.

“Ini kami lakukan karena kami ingin tampil sendiri di gedung Taman Ismail Marzuki. Dan syaratnya kami harus membuat lima belas pertunjukan baik di dalam maupun di luar sekolah,” jelas Daniel.

“Tidak mudah bagi para siswa bermain peran dalam cerita ini. Di tengah kesibukan penilaian akhir tahun, mereka harus berlatih dan belajar bahasa Melayu demi pementasan ini,” lanjut Daniel. “Mereka juga harus menjiwai peran yang mereka bawakan masing-masing agar tidak bergantung teks. (Lucia Febriarlita)